Review jurnal- Karta Wijaya
RESUME JOURNAL HUBUNGKAN KARAKTERISTIK PETANI DENGAN EFEKTIVITAS KOMUNIKASI PENYULUHAN PERTANIAN DALAM PROGRAM SL-PTT (KASUS KELOMPOK THANK DI KECAMATAN KERKAP KABUPATEN BENGKULU UTARA)
Karta Wijaya
18/427851/PN/15631
B5
Pembangunan pertanian menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta didukung dengan peranan sumber daya manusia dan sumber daya alam yang ada. Pada revolusi hijau Indonesia telah mampu menggunakan inovasi dan perkembangan informasi kepada petani secara pesat baik secara secara kualitatif dan kuantitatif. menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), sektor pertanian di indonesia terus mengalami penurunan seperti hasil panen, alih fungsi laham dan penurunan jumlah tenaga kerja.
Sejalan dengan perkembangan teknologi, dikembangkan Program Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) sejak tahun 2008. Program SL-PTT memiliki tujuan utama untuk mempercepat peralihan teknologi dari peneliti dan narasumber kemudian berlangsung secara alamiah dari alumni SLPTT kepada petani lainnya dan sampai akhirnya tercapai peningkatan kemandirian pangan nasional khususnya padi, pendapatan dan kesejahteraan petani.
Peran penyuluh dalam program SLPTT ini sangat penting, penyebaran informasi pada kegiatan penyuluhan pertanian dilakukan langsung bersama para petani.Penyuluh tidak hanya diamanatkan mampu menyebarluaskan informasi seputar SL-PTTsaja, namunjuga membantu petani dalam menganalisis situasi yang sedang dihadapi,meningkatkan pengetahuan tentang SL-PTT dan mengembangkan wawasan terhadap suatu masalah, membantu petani memutuskan pilihan yang tepat yang menurut pendapat mereka sudah optimal, meningkatkan motivasi kepada petani untuk menerapkan pilihannya, dan membantu petani untuk mampu mengevaluasi serta meningkatkan keterampilan mereka dalam membentuk pendapat dan pengambilan keputusan.
Komunikasi memegang peranan penting mengenai dalam penyuluhan. Efektivits komunikasi mempengaruhi keberhasilan penyuluhan melalui berbagai faktor seperti pesan, komunikasi dan karakteristik petani baik pada umur, pendidikan, luas lahan, frekuensi ,dan konsumsi. Sehubungan dengan latar belakang permasalahan diatas, penelitian dilakukan dengan menggambarkan suatu gejala melalui survei. Populasi yang digunakan adalah kelompok tani kecamatan Kerkap, Bengkulu utara yang terdiri dari 33 kelompok tani dengan jumlah 856 orang. Responden yang diberikan aadalah 90 orang dari total populasi. Parameter yang diamati yaitu umur, tingkat pendidikan, luas lahan, konsumsi media, dan frekuensi penyuluhan. Berdasarkan hasil pengamatan diketahui bahwa:
1. Umur
Responden lebih dominan pada kelompok umur menengah, disusul kelompok umur dewasa muda, lalu kelompok umur remaja. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa semakin cukup umur petani maka semangat dan kemampuan bekerjanya jauh lebih matang, sehingga komunikasi dalam penyuluhan dapat berlangsung secara efektif karena mereka memiliki motivasi yang cukup serta serius dalam mengikuti kegiatan SLPTT yang diberikan oleh penyuluh.
2. tingkat pendidikan
Umumnya pendidikan berpengaruh terhadap cara dan pola berpikir petani, sebab pendidikan merupakan suatu proses pengembangan pengetahuan, keterampilan maupun sikap petani yang dilaksanakan secara terencana, sehingga memperoleh perubahan-perubahan dalam peningkatan hidup. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, semakin berkembang pola berpikirnya sehingga dapat dengan mudah mengambil keputusan dalam melakukan sesuatu dengan baik termasuk keputusan dalam kegiatan SL-PTT.
3. Luas lahan
Luas lahan yang dimiliki petani yang menjadi responden mayoritas lebih dari setengah hektar. Hal ini menunjukkan bahwa masih banyaknya lahan yang diolah petani untuk kegiatan pertanian. Masih besarnya keinginan petani untuk ikut bergabung dalam program SL-PTT karena berpengaruh terhadap penerapan teknologi pertanian, sebab semakin luas lahan usaha tani, semakin tinggi hasil produksi sehingga turut meningkatkan pendapatan petani. Sebaliknya luas lahan yang sempit akan mempengaruhi tingkat persepsi petani mengenai tingkat kerumitan yang akan dihadapi, sehingga bagi petani yang hanya memiliki luas lahan sedikit cenderung kurang tertarik dan kurang merasa cocok untuk menerapkan program SL-PTT.
4. Konsumsi Media
Kerkap termasuk golongan yang rajin dan kreatif serta banyak memanfaatkan beragam sumber informasi, seperti media massa, lembaga pendidikan, lembaga penelitian, tokoh masyarakat dan lain-lain. Semakin sering petani mengakses informasi di media massa seperti tentang informasi penggunaan bibit unggul dalam pertanian maka semakin tinggi pula persepsi dan kepercayaan petani untuk menggunaan bibit unggul yang dianjurkan dalam program SLPTT.
5. Frekuensi mengikuti penyuluhan
Dalam pendidikan non formal seperti penyuluhan, maka akan disajikan materi-materi yang berkaitan dengan kegiatan SL-PTT seperti bibit yang diperoleh masingmasing responden. Semakin sering petani mengikuti penyuluhan, maka petani akan semakin mengerti dan memahami informasi yang diberikan. Selain itu, melalui penyuluhan maka pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman dapat bertambah.
Konsep efektivitas komunikasi dan penyuluhan pertanian diukur melalui lima tanda efektivitas komunikasi Tubbs dan Moss yaitu pengertian, kesenangan, mempengaruhi sikap, hubungan sosial yang baik dan tindakan, berdasarkan indikator tersebut dapat disimpulkan bahwa efektivitas komunikasi antara penyuluh dengan petani tergolong cukup efektif. Orang yang masuk pada golongan tua cenderung selalu bertahan dengan nilai-nilai yang lama sehingga diperkirakan sulit menerima hal-hal yang bersifat baru. Orang yang berusia lebih tua mempunyai partisipasi yang lebih rendah dibandingkan dengan yang berusia muda.. Petani yang berusia lanjut yaitu berumur 65 tahun ke atas biasanya fanatik terhadap tradisi dan sulit untuk diberikan pengertianpengertian yang dapat mengubah cara berpikir, cara kerja dan cara hidup. Mereka cenderung bersikap apatis terhadap adanya teknologi baru sehingga mereka hanya melaksanakan kegiatan yang sudah biasa diterapkan oleh pendahulu atau masyarakat sekitar.
Hubungan antara tingkat pendidikan dengan efektivitas komunikasi dapat terbukti. Hal inilah yang menyebabkan mereka lebih memilih untuk menerapkan program SL-PTT. Sebaliknya mereka yang berpendidikan rendah memilih untuk bertahan pada cara tradisional karena mereka kurang merasa senang dan cocok dengan cara bertani modern yang dianjurkan oleh penyuluh dalam program SL-PTT karena menurut mereka bertani modern jauh lebih rumit. Selain itu juga karena mereka mempertimbangkan adanya resiko di kemudian hari.
Luas lahan usahatani menentukan pendapatan, taraf hidup dan derajat kesejahteraan rumah tangga petani. Luas penguasaan lahan akan berpengaruh terhadap keinginan petani untuk menerapkan, karena semakin luas lahan usahatani maka akan semakin tinggi hasil produksi sehingga turut meningkatkan pendapatan petani. Seiring dengan kebiasaan mereka yang mengkonsumsi media maka turut mempengaruhi hubungan sosial yang baik diantara petani dengan penyuluh karena petani sedikit banyaknya mendapat informasi dari penyuluh dan mereka dapat bertukar pikiran baik di dalam penyuluhan maupun diluar penyuluhan pertanian. Frekuensi petani dalam mengikuti penyuluhan yang meningkat disebabkan karena penyampaian yang menarik dan tidak membosankan serta yang disampaikan benar-benar bermanfaat bagi petani dan usahataninya.
Referensi:
Narti, S. 2015. Hubungan karakteristik petani dengan efektivitas komunikasi penyuluhan Pertanian Dalam program SL-PTT (kasus kelompok tani di kecamatan KERKAP kabupaten bengkulu utara) . Jurnal Professional FIS UNIVED 2(2):p 40-52
Komentar
Posting Komentar