Review Jurnal - Arisa Astiwi Maulani


CYBER EXTENSION: PENGGUNAAN MEDIA DAN KELANCARAN PENCARIAN INFORMASI DI KALANGAN PENYULUH PERTANIAN KABUPATEN BOGOR
Cyber Extension: Use of Media and Information Search Strategy in the Agriculture of Agricultural Bogor District
Abung Supama Wijaya, Sarwititi Sarwoprasodjo, Diah Febrina
Nama   : Arisa Astiwi Maulani
NIM    : 18/427723/PN/15503
Pembangunan pertanian yang berkelanjutan saat ini terletak pada upaya dan kapasitas yang dimiliki oleh penyuluh pertanian. Hal ini disebabkan oleh peran penting yang dimiliki oleh penyuluh pertanian sebagai ujung tombak serta jembatan antara pemerintah dan petani sebagai pelaku utama. Penyuluh pertanian dituntut memiliki pengetahuan, informasi yang memadai untuk petani, dan kemampuan untuk akses dan tanggap terhadap perkembangan teknologi informasi. Salah satu teknologi informasi di bidang pertanian yang dikembangkan saat ini adalah program Cyber Extension. Pengembangan sistem informasi tersebut mengacu pada Pasal 15 ayat 1c Undang-Undang No. 16 tahun 2006 tentang Sistem PenyuluhanPertanian,Perikanan, danKehutanan(SP3K) dengan materi bahwa Balai Penyuluhan berkewajiban menyediakan dan menyebarkan informasi tentang teknologi, sarana produksi, pembiayaan dan pasar.
Cyber Extension merupakan mekanisme pertukaran informasi pertanian dalam sistem penyuluhan pertanian melalui area cyber dengan tujuan untuk mempercepat arus informasi berbasis teknologi ke tingkat pengguna akhir (petani) serta membangun komunikasi secara interaktif. Sistem informasi ini pertama kali dikembangkan oleh Kementerian Pertanian pada tahun 2008 dengan mengacu pada PeraturanMenteri NegaraPendayagunaanAparaturNegara Nomor:Per/02/Menpan/2/2008 Pasal 8 bahwa penyuluhan pertanian melalui website, merupakan salah satu tugas penyuluh pertanian terutama bagi penyuluh pertanian yang telah menyandang jabatan fungsional sebagai Penyuluh Pertanian Ahli.
Kementerian Pertanian membangun program Cyber Extension ditandai dengan menghadirkan alamat situs http://cybex.deptan.go.id/, diikuti dengan paket pengadaan peralatan Cyber Extension sejumlah 1.256 unit, berupa komputer PC, printer, modem, dan stabilizer guna mendukung implementasi sistem tersebut. Total paket pengadaan sejumlah 1.090 unit ditempatkan di kelembagaan penyuluhan kecamatan (1.090 kecamatan dari jumlah total kecamatan 6.672 kecamatan)(Pusat Penyuluhan Pertanian, 2012), dan selebihnya ditempatkan di kelembagaan penyuluhan provinsi dan kabupaten/kota, masing-masing 1 unit. Pada tahun 2011 Pusat penyuluhan mengadakan tambahan unit pengadaan Cyber Extension sejumlah 180 unit, (62 unit ditempatkan di kelembagaan penyuluhan kecamatan) yang khusus diperuntukkan bagi 11 provinsi pelaksana P2BN guna menunjang percepatan materi penyuluhan dan informasi pertanian dalam rangka mendukung pembangunan pertanian. Distribusi tersebut jumlahnya didasarkan pada bentuk kelembagaan yang sesuai dengan Undang-undang Nomor 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan (SP3K). Cyber Extension dikembangkan agar penyuluh sebagai agen pembangunan dapat memberikan informasi (message carriers) kepada petani. Selain itu, melalui informasi yang diperoleh dari Cyber Extension dapat digunakan untuk mengembangkan inovasi baru, produk-produk pertanian yang berdaya saing dan berproduktivitas tinggi, program penyuluhan dan lain sebagainya. Cyber Extension bertujuan agar informasi penyuluhan bisa dikirim secara cepat kepada penyuluh sehingga petani selalu update dengan informasi-informasi terbaru.
Penelitian pada jurnal ini dilakukan dengan pendekatan kuantitatif deskriptif melalui survei terhadap 61 penyuluh pertanian di Kabupaten Bogor. Pengumpulan data dilakukan dengan metode sensus terhadap tiga Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (BP3K) terpilih, yaitu BP3K Ciawi, Ciseeng, dan Leuwiliang. Selanjutnya data dianalisis dan ditampilkan melalui tabel distribusi frekuensi. Penelitian ini menggunakan beberapa variable dan dimensi yang ukurannya yaitu, karakteristik penyuluh pertanian yang diukur dengan indicator umur, pendidikan formal, tingkat kepemilikan media, dan motivasi penyuluh. Kedua, penggunaan media yang diukur dengan indicator kemampuan akses internet, ketersediaan saran dan biaya operasional media. Ketiga indicator tersebut menggunakan skala ordinal, dan ketiga kelancaran tahapan pencarian informasi yang merujuk kepada teori Ellis (1987). Variabel ini diukur dengan menggunakan indicator starting, chaining, browsing, differentiating, dan monitoring. Skala ordinal juga digunakan dalam melakukan pengukuran dengan pilihan kategori sangat lancar, lancar, dan kurang lancar.
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan didapatkan hasil bahwa karakteristik penyuluh pada penelitian ini adalah penyuluh pertanian dengan usia muda dan tua. Sebagian besar penyuluh yang berada di Kabupaten Bogor termasuk kategori usia lebih dari 40 tahun dengan tingkat pendidikan tinggi. Berdasarkan kepemilikan media sebagian besar adalah rendah. Para penyuluh rata-rata mempunyai dua jenis media yang digunakan, yaitu computer dan handphone. Selain itu, kemampuan penyuluh dalam mengakses Cyber Extension tergolong baik, kebanyakan para penyuluh sudah mampu mengoperasikan computer untuk akses internet, mengakses informasi terbaru, menggunakan email, dan berkomunikasi dengan sesame penyuluh. Ketersediaan sarana untuk akses internet masih dirasakan kurang. Hal ini dikarenakan minimnya fasilitas wifi dan modem untukmendukungkelancaranmengakses internet. Biaya operasional masih dirasakan kurang, biaya yang sudah ada dianggap kurang merata dan mencukupi untuk memenuhi kebutuhan penyuluh dalam pencarian informasi melalui internet. Tahapan pencarian informasi pada indicator Starting, Chaining, Browsing, Differentiating, Monitoring, dan Extracting secara umum berada pada kategori lancar.
Sumber:

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Jurnal - Siti Rhahmah

Review jurnal- Karta Wijaya

Review Jurnal - Daffa Ryan Pramadytha Salam (18/427726/PN/15506)