Review Jurnal - Verena Butet Hanis

Review: Tantangan Literasi Informasi Petani di Era Informasi: Studi Kasus Petani di Lahan Pasir Pantai Daerah Istimewa Yogyakarta
Penulis: Alia B. Raya, Sri Peni W., Paksi Mei P., Sylvatra Puspita S., Diah Ajeng P.
Jurnal Sosial dan Ekonomi Pertanian 2017, 10(1):10-16.

Sektor pertanian merupakan salah satu sumber mata pencarian bagi masyarakat Indonesia sehingga sektor ini turut menopang perekonomian negara. Dalam rangka pengembangan sektor pertanian, diperlukan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan untuk mengatasi masalah yang terjadi selama proses pertanian. Kemampuan mengatasi masalah secara teknis sudah dimiliki oleh banyak petani, namun kemampuan mencari informasi untuk mengatasi masalah yang belum diketahui solusinya belum dimiliki oleh semua petani. Kemampuan ini disebut sebagai literasi informasi. Literasi informasi merupakan bentuk pemberdayaan masyarakat di bidang informasi, dengan menerapkan etika yang berlaku. Etika adalah hal yang penting dalam transformasi ide menjadi aksi bersama karena etika menjadi tanggung jawab sosial masyarakat yang dipegang bersama.

Jurnal ini meneliti tentang tantangan yang dihadapi petani dalam memahami kebutuhan informasi pertanian dan memenuhi kebutuhan tersebut melalui literasi informasi. Penelitian ini dilakukan di Desa Bugel dan Desa Garongan, Kecamatan Panjatan, Kabupaten Kulon Progo, DIY. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah  melalui Participatory Action Research (PAR) yang dilakukan bersamaan dengan intervensi sosial.

Masalah utama yang dihadapi oleh petani di lahan pasir pantai adalah tingginya penguapan pada tanaman. Solusi dari masalah ini penggunaan hibit hibrida yang tahan pada iklim kering dan penggunaan teknologi penyiraman. Namun, kedua hal ini cukup mahal dan cukup sulit untuk diakses.

Petani mendapatkan informasi tentang pertanian dari dalam kelompok tani dan dari luar kelompok tani. Dari dalam kelompok tani, petani mendapatkan info dari pengurus internal poktan dan pengurus internal pasar lelang. Dari luar kelompok tani, petani mendapatkan informasi dari poktan lain, pedagang, perusahaan input pertanian, pemerintah dan dari media.

Informasi yang didapatkan dari dalam kelompok tani berupa informasi pertanian dari hulu ke hilir. Informasi tersebut adalah pengolahan lahan, penanaman, penyiraman, pengendalian hama dan penyakit, pemetikan/panen dan pemasaran. Informasi dari dalam poktan ini cenderung lebih dipercaya dan dilaksanakan oleh petani. Hal ini disebabkan oleh hasil produksi yang secara nyata lebih tinggi yang dimiliki oleh pengurus poktan.

Informasi yang didapatkan dari luar kelompok tani bersifat teknis dan lebih luas dalam hal penerapan.  Dari luar poktan, petani mendapatkan info tentang pemupukan dengan metode infus. Dari pedagang, petani mendapatkan informasi yang netral tentang suatu alat atau bahan pertanian (tidak hanya kelebihan, tapi juga kekurangannya). Hal ini disebabkan oleh tidak adanya kepentingan khusus yang dimiliki oleh pedagang dengan merk tertentu. Dari perusahaan input pertanian, petani mendapatkan informasi yang cenderung hanya bernilai positif saja tentang suatu produk. Hal ini disebabkan oleh keinginan perusahaan untuk menjual produk dalam jumlah banyak dan mendapatkan keuntungan yang tinggi. Dari pemerintah, petani cenderung tidak mendapatkan informasi berarti tentang pertanian. Hal ini juga ditunjukkan oleh kurangnya respons pemerintah dalam menanggapi permohonan bantuan oleh petani. Dalam hal pembelian diesel sebagai bahan bakar mesin penyiraman, petani cenderung menghadapi tahapan rumit yang belum pernah disosialisasikan oleh pemerintah. Dari media, petani mendapatkan kemudahan dalam berkomunitas, berjualbeli dan belajar teknis. Mereka bergabung dengan Komunitas Petani Cabai Indonesia di Facebook, membeli kebutuhan pertanian di toko online dengan sistem COD serta menonton cara teknis dalam mengatasi masalah pertanian di YouTube.

Dalam hal literasi informasi, tantangan yang dihadapi ada dalam hal pencarian informasi, evaluasi dan konfirmasi informasi serta penerapan informasi.
- Dalam hal pencarian informasi, tantangan yang dihadapi oleh petani adalah perlunya kemampuan komunikasi yang baik, perlunya saluran komunikasi dan jaringan komunikasi serta perlunya kesiapan dalam menggunakan alat dan media komunikasi. Dalam hal komunikasi, petani di Kulon Progo dapat dikatakan sudah memiliki kemampuan komunikasi yang baik. Kekurangannya adalah sulitnya untuk memercayai atau menerima informasi dari luar kelompok. Dalam hal saluran dan jaringan komunikasi, daerah Kulon Progo termasuk daerah yang sedang dibangun oleh pemerintah setempat sehingga memiliki jaringan yang cukup baik. Dalam hal penggunaan alat komunikasi, kebanyakan petani sudah memiliki kemampuan untuk menggunakan telepon genggam dan bahkan bergabung dalam media sosial.
- Dalam hal evaluasi dan konfirmasi informasi, petani di Kulon Progo dapat dikatakan sudah mampu untuk memilah dan mengecek kebenaran suatu informasi. Ketika mendapatkan informasi dari luar poktan, petani cenderung akan menanyakan pada pihak lain yang memiliki pengetahuan tentang topik tersebut. Petani di Kulon Progo tidak mudah tertipu oleh suatu informasi.
- Dalam hal penerapan informasi, petani cenderung lebih berani untuk menerapkan sistem pertanian yang telah mereka lihat secara langsung keberhasilannya. Penerapan inovasi teknologi membutuhkan modal yang cukup besar, sehingga tidak semua petani dapat menerapkan sebuah inovasi walaupun mereka sudah mengerti tentang inovasi tersebut.

Berdasarkan pemaparan tersebut, dapat disimpulkan bahwa petani di Kulon Progo memiliki kemampuan pencarian dan pemenuhan informasi yang baik walaupun dalam hal penerapan belum semua bisa menerapkan. Petani memiliki kesadaran yang tinggi untuk melakukan komunikasi interpersonal untuk mendapatkan informasi dan komunikasi kelompok untuk verifikasi informasi. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun memiliki berbagai tantangan, literasi informasi petani Kulon Progo sudah cukup baik.

Review jurnal ini ditulis oleh Verena Butet Hanis (16/398941/PN/14912).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Jurnal - Siti Rhahmah

Review jurnal- Karta Wijaya

Review Jurnal - Daffa Ryan Pramadytha Salam (18/427726/PN/15506)