REVIEW JURNAL -- Yuliani Wulandari


Peran Penyuluh Pertanian terhadap Penerapan Teknologi Tanam Jajar Legowo 2:1
(Kasus Kelompok Tani Gotong Royong 2 di Desa Klasemen, Kabupaten Probolinggo)
Yuliani Wulandari (18/430407/PN/15724)

Sumber : kampustani.com
Penyuluh pertanian adalah penghubung utama yang dapat digunakan dalam proses transfer teknologi kepada petani. Peran penyuluh pertanian merupakan faktor penting untuk meningkatkan produksi pertanian dan juga pengembangan pertanian. Oleh sebab itu, perlu adanya bimbingan dan pelatihan dari penyuluh lapang kepada petani. Tugas penyuluh dapat berhasil diperlukan peran aktif dan dukungan dari petani. Adanya dukungan dari petani dalam suatu kegiatan akan terjadi suatu kerjasama antara pemberi kegiatan atau program (penyuluh) dengan sasaran program (petani). Salah satu hal yang dilakukan adalah melakukan penyuluhan mengenai teknologi tanam jajar legowo 2:1. Modifikasi alat tanam, penyempurnaan dan penerapan cara tanam jajar legowo 2:1 sampai saat ini terus dilakukan dengan tujuan dapat diperoleh manfaat yang optimal.
Penerapan sistem tanam jajar legowo 2:1 akan semakin optimal jika diterapkan pada wilayah yang subur dengan air irigasi yang tersedia sepanjang tahun seperti pada Desa Klaseman, Kabupaten Probolinggo. Kelompok Tani Gotong Royong 2 berada di Desa Klaseman, Kecamatan Gending, Kabupaten Probolinggo anggotanya merupakan warga Desa Klaseman yang mata pencaharian utamanya sebagian besar adalah petani merupakan salah satu penerima program upsus. Salah satu program upsus yang dijalankan pada kelompok tani Gotong Royong 2 adalah adopsi inovasi jajar legowo 2:1. Dalam menjalankan usaha taninya kelompok tani Gotong Royong 2 mendapatkan pelatihan dan penyuluhan oleh Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dari BPP.
Penentuan daerah penelitian ini bertujuan untuk mengamati peran penyuluh dalam penerapan adopsi inovasi teknologi tanam Jajar Legowo 2:1 khususnya pada Kelompok Tani Gotong Royong 2. Informasi mengenai peran penyuluh dalam penerapan teknik ini diperoleh melalui wawancara menggunakan pedoman wawancara dengan informan dan key informan. Pada penelitian ini yang disebut sebagai narasumber kunci (key informan) merupakan seorang ataupun beberapa orang, yaitu orang-orang yang paling banyak menguasai informasi (paling banyak mengetahui) mengenai hal-hal yang sedang diteliti tersebut. Key informan dalam penelitian ini yaitu Petugas Penyuluh Lapang (PPL) dari Balai Penyuluh Pertanian setempat Ibu Verawati dan Ketua Kelompok Tani Gotong Royong 2 Bapak Hasyim. Informan dalam penelitian ini dipilih dari orang-orang yang dapat dipercaya dan mengetahui mengenai penyuluhan dan penerapan teknik tanam jajar legowo 2:1 di daerah tersebut. Pada penelitian ini terdapat 13 informan dari anggota Kelompok Tani Gotong Royong 2 dan 1 orang penyuluh yang mengampu daerah tersebut.
Kelompok Tani Gotong Royong 2 merupakan salah satu kelompok tani yang dekat dengan penyuluh dan berperan aktif dalam kegiatan penyuluhan. Penyuluhan dilakukan oleh Petugas Penyuluh lapang Desa Klaseman yaitu Ibu Verawati Santi D. M. Melalui peran aktif penyuluh diharapkan petani dapat menyadari akan kebutuhanya dalam melakukan peningkatan kemampuan diri dan dapat meningkatkan usaha tani mereka menjadi lebih baik. Salah satu peran aktif yang dilakukan yaitu mengundang penyuluh untuk melakukan pendampingan di lapang.
Penyuluh sangat pro aktif membantu kegiatan anggota Kelompok Tani Gotong Royong 2 dibuktikan dengan 100% informan yang diwawancarai menyatakan bahwa penyuluh selalu hadir jika dihubungi (ditelfon/SMS) untuk melakukan pendampingan di lapang. Dalam pendampingan tersebut penyuluh tidak hanya untuk memperkenalkan inovasi baru tetapi penyuluh juga hadir untuk mengajarkan teknik-teknik budidaya padi yang baik. Penyuluh juga sering aktif terlibat diskusi dengan petani terkait permasalahan-permasalahan yang mereka dihadapi di lapang. Penyuluhan tersebut dilakukan dengan menggunakan bahasa Madura yang merupakan bahasa daerah setempat sehingga pada saat penyuluhan dan pendampingan di lapang berjalan efektif untuk meningkatkan serapan informasi yang diterima petani.
Hubungan penyuluh dan anggota Kelompok Tani Gotong Royong 2 yang terjalin dengan baik menumbuhkan kerpacayaan petani kepada penyuluh. Rasa percaya ini yang nantinya akan memudahkan penyuluh dalam memberikan arahan untuk mengadopsi teknologi baru. Berdasarkan hasil wawancara, penyuluh tidak bersifa diktator melainkan melibatkan diskusi persuasif kepada petani. Penyuluh memberikan pandangan kepada petani dan mengarahkan petani untuk mengadopsi teknik tanam baru. Petani menyambut cara ini secara positif. Sikap positif ini ditunjukkan dengan kesediaan mereka untuk mengikuti penyuluhan.
Peran penyuluh sebagai penghubung peneliti dan petani yaitu ditandai dengan penyuluhan yang dilakukan pada saat pertemuan kelompok tani mengenai teknik tanam jarwo 2:1 dengan memberikan informasi mengenai inovasi-inovasi baru yang telah ditemukan oleh peneliti. Penyuluh juga menggunakan alat bantu proyektor sebagai media komunikasi sehingga petani lebih paham karena bisa melihat gambar secara langsung seperti apa contoh padi yang ditanam menggunakan sistem jajar legowo 2:1. Rencana pelaksanaan kegiatan juga diikuti sosialisasi mengenai bantuan bibit, pupuk, dan bantuan uang untuk pengolahan tanah. Penerapan teknik jajar legowo tersebut memerlukan tambahan bibit karena pengaturan jarak tanam menyebabkan populasi yang dapat ditanam bertambah sehingga penyuluh juga menjelaskan kepada petani tentang anggaran biaya terutama tambahan biaya yang harus dilakukan.
Peran penyuluh sebagai organisator dan dinamisator yaitu penyuluh membantu pengurus kelompok untuk mengakomodasi kebutuhan petani. Anggota Kelompok Tani Gotong Royong 2 semua ikut mengaplikasikan teknologi tanam jajar legowo 2:1 sehingga penyuluh rutin mendampingi tanam petani dan ikut mengontrol kondisi lahan sawah petani untuk melihat ada tidaknya serangan hama penyakit tanaman. Penyuluh juga selalu memberikan motivasi kepada petani untuk terus mengembangkan usaha taninya. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengembangkan usaha tani petani adalah dengan cara tidak hanya himbauan dalam bentuk lisan tetapi partisipasi aktif penyuluh ketika petani berada di lapang.
Selain ikut mendampingi penyuluh juga ikut turun ke sawah secara langsung untuk memberikan arahan yang benar untuk menerapkan teknik jajar legowo 2:1. Pada kenyataan di lapang semua petani anggota Kelompok Tani Gotong Royong 2 telah mengadopsi teknik jajar legowo. Saat aplikasi pupuk dan penyemprotan pestisida juga perlu didampingi agar petani bisa mengaplikasikan pupuk dan pestisida dengan benar. Berdasarkan keterangan petani penerapan teknik memupuk di sawah yang mengadopsi teknik jajar legowo 2:1 membutuhkan lebih banyak tenaga kerja. Hal ini disebabkan oleh aplikasi pupuk yang tepat pada baris membutuhkan lebih banyak waktu.
Peran penyuluh sebagai teknisi salah satunya pengaplikasian di lapang dan pengembangan proyek, penerapan dan instruksi dari aktivitas yang harus dilakukan untuk mengadopsi suatu inovasi, dan penyebaran teknik yang terbaik untuk melakukan budidaya. Penyuluh juga mengajarkan cara pengaplikasian pupuk di lapang yaitu dengan cara pemupukan tidak boleh disebar melainkan diletakkan diantara tanaman padi yang berjarak 20 cm. Himbauan penyuluh ini sangat tepat karena pupuk yang disebar akan mudah menguap dan tidak diserap tanaman. Jika cara pemupukan benar maka penyerapan pupuk akan lebih efisien.
Peran penyuluh sebagai pembimbing petani yaitu agar inovasi yang sudah di adopsi terus digunakan dan inovasi tersebut bisa terus memberikan maanfaat untuk petani. Salah satunya membuat ubinan untuk mengukur perkiraan hasil panen dan mengawasi hasil panen petani. Cara tersebut dapat membuat penyuluh mengetahui perkiraan hasil panen sehingga dapat diketahui ada tidaknya perubahan produksi pada saat menerapkan teknik jajar legowo 2:1. Berdasarkan hasil penilitian, semua petani yang ikut menerapkan teknik tanam jajar legowo 2:1 menyatakan adanya peningkatan hasil.

Sumber :
Putri, R.T., dan R. Safitri. 2018. Peran penyuluh pertanian terhadap penerapan teknologi tanam jajar legowo 2:1 (kasus kelompok tani gotong royong 2 di Desa Klasemen, Kabupaten Probolinggo). Jurnal Ekonomi Pertanian dan Agribisnis. 2(3) : 167-178.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review jurnal- Karta Wijaya

Review Jurnal - Daffa Ryan Pramadytha Salam (18/427726/PN/15506)

REVIEW JURNAL